Puasa

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

penjelasan-puasa-ramadhan-terlengkapPuasa adalah rukun Islam yang ketiga. Karena itu setiap orang yang beriman, setiap orang islam yang mukallaf wajib melaksanakannya. Melaksanakan ibadah puasa ini selain untuk mematuhi perintah Allah adalah juga untuk menjadi tangga ke tingkat takwa, karena takwalah dasar keheningan jiwa dan keluruhan budi dan akhlak.

Untuk ini semua, perlu diketahui segala sesuatu yang berkenaan dengan puasa, dari dasar hukum, syarat-syarat, rukun puasanya dan lain sebagainya.

Makalah ini kami sajikan sebagai suatu sumbangan kecil kepada para pembaca untuk maksud tersebut di atas dengan harafan ada faedahnya.Tegur sapa, kritik dan saran dalam usaha menyempurnakan makalah ini kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah Swt. mengiringi kita semua dengan taufik dan hidayah-Nya. Aamiin.

  1. Rumusan Masalah
  • Apa pengertian Puasa?
  • Sebutkan macam-macam puasa?
  • Apa saja syarat-syarat wajib puasa?
  • Sebutkan hal-hal sunnat dalam berpuasa?
  • Sebutkan hal-hal makruh dalam berpuasa?
  • Bagaimana Meng- Qodho’ Puasa ramadahan?
  1. Tujuan
  • Untuk memperoleh pengetahuan berpuasa
  • Untuk mengetahui macam-macam puasa
  • Untuk memahami syarat-syarat berpuasa
  • Untuk mengetahui hal-hal sunnat dalam puasa
  • Untuk memahami hal-hal yang dimakruhkan ketika berpuasa
  • Untuk mengetahui cara Meng- Qodho’ Puasa Ramadhan

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Puasa

Puasa atau shiyam, dalam istilah fikih, adalah menahan diri dari dari segala perbuatan yang membatalkan, seperti makan, minum dan senggama sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan persyaratan tertentu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Dalam hadis Qudsi disebutkan, “ semua amaln manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa; Akulah (Allah) yang menentukan balasanya (secara khusus ). Dan puasa merupakan penghalang  dari perbuatan pelangaran (terhadap larangan Alla);maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, jaganlah ia berkata keji atau bertindak bodoh(jahil). Kalaupun seseorang menunjukkan cercaan kepadanya atau mengajaknya bertengkar (atau berkelahi), hendaklah ia berkata; aku inisedang berpuasa. Aku ini sedang berpuasa! Sungguh,demi Allah yang  jiwa Muhammad berada di tanggan-Nya, bau mulut seorang yang sedang berpuasa, pada hari kiamat kelak, akan lebih harum dari pada harummnya misik. Dan seorang yang berpuasa akan merasakan dua kali kebahagiaan: sekali pada saat ia berkata, dan sekali lagi ketika berjumpa dengan Tuhannya.”(HR Ahmad, Muslim dan Nasa’iy).[1]

  1. Mengenal Macam-Macam Puasa
  2. Puasa Wajib

Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan. Dan jika dilakukan sesuai dengan   cara yang diajarkan oleh Rasulullah Saw akan mendapatkan pahala. Jika ditinggalkan tanpa sebab yang dibenarkan, akan berdosa. Puasa wajib ada tiga macam yaitu:

  1. Puasa yang diwajibkan pada waktu yang telah ditentukan daam syariat. Seperti pusa dibulan Ramadhan.
  2. Puasa yang diwajibkan kepada seseorang karena ada sebab(illah) tertentu, sebagaimana yang telah ditentuksn dalam syariat. Salah satunya karena ia telah beruat maksiat. Seperti melakukan pembunuhan secara tidak disengaja, membatalkan atau melanggar sumpah, melkukan hubngan suamiistri disiang hari pada bulan ramadhan, atau dzihar-nya suami terhadap istri. Puasa ini disebut Puasa Kafarat.
  3. Puasa yang wajib dilaksanakan pleh seseorang, kerena ia sendiri yang mewajibka dengan sebab dan alasan tertentu yang tidak menyimapang dari syariat. Seperti seseorang yang berjanji untuk melaksanakan puasa jika diberi kesuksesan, diberi keturunn, mendapatka rezeki dan lain sebagainya. Puasa ini disebut puasa kafarat.
  4. Puasa Sunah

Puasa sunah sering disebut dengan puasa tathawwu’ atau puasa mandub, yaitu puasa yang dilaksanakan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa yang termasuk dalam kateori sunah yangtelah disepakati oleh para ulama adalah sebagai berikut:

  1. Puasa Daud ( sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa)

Puasa daud adalah puasa yang dilakukan Nabi daud. Sebagaimana disebut dalam hadits Shohih, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, ” Puasa yang paling utama adalah puasa Nabi Daud, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari.” Ada yang menambahakan, “dan tidak ada yang lebih utama dari itu. (HR. Muttafaq ‘alaih)

  1. Puasa tiga hari setiap bulan

Puasa ini seing disebut Yaumul Bidh. Yaitu berpuasa pda tanggal 13,14, dan15 di setiap bulan hijriah. Dinamakan Puasa Bidh, sebab pada tanggal itu matahari maupun bulan bersinar dengan terang benderang. Pahala puasa ini disamakan dengan puasa Dahr atau puasa sepanjang tahun.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Tawaf bin ‘Ash,ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Berpuasalah setiap bulannya tiga hari. Karena sesunggunya kebaikan pada hari itu dihitung sepulh kelipatannya, yang nilainya sama dengan ketika berpuasa sapanjang tahun” (HR. Muttaaqun alaih).

  1. Puasa dihari Senin dan kamis

Sebagaiaman perkataan Usmah bin Zaid, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: “Berpuasalah pada hari senin dan kamis. kemudian ada yang bertanya tentang hal itu. Beliau berkata: ” sesungguhnya mal prbuata manusia itu disetorkan kepada Allah pada hari senin dan kamis. “Dan dalam riwayat ditambahkan dengan lafal: ” Dan aku menyukai amalku disetorkan kepada Allah, sedang aku dalam keadaan berpuasa” (HR. Abu Dawud).

  1. Puasa enam hari dibulan syawal

Bagi seseorang yang berpuasa enam hari dibulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti puasa sepanjan tahun. Diriwayatkan oleh Abu ayyub, bahwa nabi bersabda, yang artinya:” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan pasa enam hari dibulan syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, abu dawud, dan at-tirmidzi)

  1. puasa pada hari arafah

Puasa arafah yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 zulhijjah. Puasa ini dikerjakan oleh Muslim dan Muslimah yang tidak sedang melakukan ibadah haji

  1. Puasa tanggal 9-10 Muharrom

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas, yang marfu’: “jika akau masih diberi umur panjang, maka aku akan selalu puasa tanggal 9 dan 10 muharrom.”  Dan dalam lafal muslim:”Aku akan puasa tanggal 9 muharrom Rasulullah saw juga bersabda, yang artinya: “Aku memohon kepada Alah untuk menghapuskan dosa yang aku lakukan pada satu tahun sebelumnyaa.” (HR. Muslim)

  1. Puasa pada bulan haram (Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharrom)

Demikian halnya bulan Rajab. Bulan-bulan ini adalah bulan mulia setelah bulan Ramadhan. Dari abu hurairah, ia berkata bahwa nabi bersabda, yang artinya: ” Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah shalat lail. dan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa pada bulan yang diharamkan Allah( al- Muharrom) (HR. Muslim dan yang lain)

  1. h) Puasa pada bulan syakban

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh ummu salamah. ia berkata bahwa nabi tidak pernah puasa selama satu bulan penuh dalam setahun, kecuali pada bulan syakban lalu dianjutkan puasa ramdhan. (HR.al-khamsah)

Imam Syafi’i mengatakan bahwa makruh berpuasa pada pertengahan bulan syakban, sebagaimana dalam hadis, yang artinya : ” jika sudah mencapai pertengahan bulan syakban, maka janganlah kalian melaksanakan puasa.” (HR.Ahmad dan Imam Empat dari Abu Hurairah).

  1. Puasa Makruh

Puasa makruh adalah puasa yang justru lebih baik tidak dilaksanakan. Namun jika dilaksanakan, tidak masuk pada puasa yang diharamkan. Diantara puasa yang dimakruhkan adalah sebagai berikut :

  1. a) Puasa pada akhir bulan syakban

puasa pada bulan akhir syakban dimakruhkan, kecuali bagi mereka yang masih memiliki hutang atau tanggungan puasa, atau bagi yang terbiasa melaksanakannya. sebagaimana dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya : ” janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa melaksanakan puasa, maka boleh baginya untuk melaksanakannya.” (HR.Muttafaq’alaih)

  1. b) Puasa pada hari jum’at saja

Berpuasa pada hari jum’at, hukumnya makruh. hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, yang artinya :”Sesungguhnya hari jumat adalah hari raya kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian berpuasa, kecuali kalian telah berpuasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya..” (HR.al-Bazzar)

  1. c) Puasa pada hari sabtu saja

Puasa pada hari sabtu saja juga dimakruhkan. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Basar, yang berkata bahwa nabi bersabda, yang arinya: “janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali yang diwajibkan kepada kalian.” (HR.Tirmidzi)

  1. d) Puasa pada hari yang diragukan (yamus syak)[2]

Puasa ini makruh, sebagaimana dalam hadis Rasulullah. Rasulullah bersabda, yang artinya, “Barangsipa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Abu Qasim (Nabi Muhammad).” (HR.Bukhari)

  1. e) Puasa pada hari raya umat islam

Sebab, dikhawatirkan hal ini akan ikut mengagungkan hari besar orang lain. Padahal, bentuk mengagungkan sesuatu salah satu caranya adalah dengan berpuasa. Jika hal itu dilakukan, maka akan menyerupai umat lain.

  1. f) Puasa Wishal

Puasa Wishal yaitu berpuasa terus menerus tanpa berbuka. Rasulullah bersabda, yang artinya: “janganlah kalian berpuasa wishal.” (HR. Bukhari)

  1. g) Puasa Dahr

Puasa Dahr adalah puasa yang dilakukan selama satu tahun penuh, dan ini hukumnya makruh. Rasulullah bersabda, yang artinya: “tidak dianggap berpuasa, bagi orang yang berpuasa selamanya.” (HR.Muslim)

  1. h) Puasa sunahnya seorang istri tanpa izin suaminya

Puasa ini juga makruh dilakukan, meskipun yang dikerjakan adalah puasa   sunah. Rasulullah bersabda, yang artinya,”janganlah seorang wanita berpuasa pada   suatu hari, ketika suami berada disisinya, melainkan dengan izinnya, kecuali pada        bulan Ramdhan.” (HR..Muttafaq’alaih)

  1. Puasa haram

Ada puasa yang haram dilakukan. Jika dikerjakan, seorang muslimah akan  berdosa. Puasa-puasa yang diharamkan adalah sebagai berikut:

  1. a) Puasa pada hari raya

Puasa pada hari raya, baik pada hari raya idul fitri maupun idul adha, serta tiga hari berikutnya atau yang sering disebut dengan hari tasyriq, haram hukumnya.

Puasa pada hari-hari ini hukumnya haram. Jika ada yang berpuasa maka ia dianggap telah bermaksiat kepada Allah.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “bahwa Rasulullah melarang berpuasa pada dua hari, yaitu: hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.” (HR.Muttafaqun’alaih)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dalam kitab shahih       muslim-nya, dari Nabi yang artinya: “hari itu (hari raya) adalah hari untuk makan dan         minum serta mengingat Allah.

Namun jumhur ulama mengecualikan puasa tasyriq bagi yang sedang          melaksanakan haji Tamattu’ dan haji Qiran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu      Umar dan Aisyah: “tidak ada rukhsah bagi kalian untuk berpuasa pada hari-hari             tasyriq, kecuali bagi yang tidak mendapatkan daging sembelihan (sedang haji).”             (HR.Bukhari).

 

  1. b) Puasanya wanita yang sedang haid maupun nifas

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadis. yaitu ketika Rasulullah ditanya tentang sebab yang menjadikan agama seorang wanita setengah dari laki-laki. Beliau menjawab, yang artinya: “bukankah ketika ia haid dan tidak berpuasa dan bukankah persaksian wanita itu setengah dari laki-laki ?” hadis ini menjelaskan bahwa wanita yang sedang haid tidak sah melaksanakan puasa., meski itu puasa wajib. ia wajib mengganti puasa wajib yang ia tinggalkan diwaktu haid atau nifas pada hari yang lainnya.

 

  1. c) Puasanya membahayakan jiwa dan raga

misalnya, seseorang sedang sakit keras atau dalam kondisi yang sangat lemah. jika ia berpuasa, maka kesehatannya akan semakin lemh, bahkan bisa saja ia akan meninggal dunia.

C.. Syarat Wajib Puasa

1) islam

Menurut Imam Hanafi, islam merupakan syarat wajib puasa, sedangkan menurut jumhur, beragama islam merupakan syarat sahnya puasa. Dengan demikian, seorang non-Muslim tidak mewajibkan melaksanakan puasa.

2) Baligh dan berakal sehat

Sebelum seorang anak mencapai usia baligh, ia belum diwajibkan untuk melaksanakan puasa. sehingga, saat balighnya tiba, ia tidak merasa berat untuk menunaikannya.

3) Sedang mukmin dan mampu melaksanakan puasa

Musafir dan orang yang sedang sakit, dapat menganti puasa wajib yang ia tinggalkan dihari yang lain. hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya: “(yaitu)          dalam beberapa hari yang tertentu. maka barang siapa diatara kamu ada yang sakit      atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak         hari yang itinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang            berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu)         memberi makan seorang miskin. barang siapa dengan kerelaan hati menggerjakan       kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu, jika            kamu mengetahui.”(Al-Baqarah:184)

4) Tidak dalam keadaan haid atau nifas

Wanita yang sedang haid atau nifas dilarang untuk melakukan puasa. ia wajib        mengganti puasa wajibnya dihari yang lain sebanyak puasa yang ditinggalkan.

5) Niat

Ada sebagaian ulama yang menambahkan niat sebagai syarat sah dan syarat           wajib   puasa. Orang yang tidak niat untuk berpuasa, maka puasanya tidak sah.

 

  1. Hal-hal Sunnat Dalam Berpuasa
  • Menyegerakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam.
  • Berbuka dengan kurma, sesuatu yang manis, atau dengan air
  • Berdoa sewaktu berbuka puasa.
  • Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika puasa.
  • Menta’khirkan makan sahur sampai kira-kira 15 menit sebelum fajar.
  • Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa.
  • Hendaklah memperbanyak sedekah selama dalam bulan puasa.
  • Memperbanyak membaca Alquran dan mempelajarinya (belajar atau mengajar) karena mengikuti perbuatan Rasulullah Saw
  1. Hal-hal Yang Makruh Ketika Puasa
  • Puasa wishal atau melaksanakan puasa terus menerus tanpa berbuka
  • Bercumbu dan berciuman atau melakukan hal-hal yang termasuk mukadimah  ataupendahuluan jimak
  • Mencium masakan bahkan mencicipinya.
  • Berkumur dan memasuakan air ke hidung secara berlebihan, terutama ketika tidak sedang berwudhu.
  • Memberi obat gigi pada siang hari pada saat darurat
  • Memperbayak tidur pada siang hari
  • Mengosok gigi setelah lewat pertengahan siang hari
  1. Meng-qadha’ Puasa Ramadhan

Barang siapa berkewajiban meng-qadha’ puasa Ramadhan karena    membatalkannya secara sengaja, atau karena suatu sebab dari beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban meng-qadha’ sebagai pengganti hari-hari yang ia      batalkan dan ia qadha’ pada masa yang diperbolehkan melakukan puasa sunnah. Jadi         tidak dianggap mencukupi meng-qadha’ puasa Ramadhan pada hari-hari yang     dilarang berpuasa padanya. Seperti hari raya, baik idul fitri maupun idul adha’. Juga tidak dianggap mencukupi pada hari-hari yang memang ditentukan untuk berpuasa            fardhu, seperti bulan ramadhan yang sedang tiba waktunya, hari-hari nazar yang    ditentukan, misalnya ia bernazar akan berpuasa sepuluh hari diawal bulan bulan             Dzulqo’dah. Jadi meng-qadha’ puasa ramadhan pada hari-hari itu tidak bisa dinilai             mencukupi. Sebab telah ditentukan untuk nazar. Demikianlah menurut kalangan        ulama Malikiyah dan Syafi’iyyah.

Begitu juga tidak bisa mencukupi melakukan qadha’ pada bulan Ramadhan            yang sedang tiba saatnya. Sebab bulan tersebut ditentukan untuk menunaikan            kewajiban puasa secara khusus. Jadi tidak bisa untuk dibuat melakukan puasa           selainnya. Melakukan puasa qadha’ dianggap sah pada hari syak, karena pada hari itu             melakukan puasa sunnah dianggap sah. Ketentuan meng-qadha’ ialah dengan cara             mengikuti jumlah puasa yang terluput(tertinggal), bukan mengikuti hilal atau tanggal bulan. Jadi kalau seseorang meninggalkan puasa selama 30 hari atau sebulan penuh,       maka ia harus meng-qadha(berpuasa) selama 30 hari juga. Jika dalam bulan yang ia   puasa tersebut ada 29 hari, maka ia harus menambah 1 hari lagi.

Bagi yang mempunyai kewajiban meng-qadha’ puasa disunnahkan untuk    segera meng-qadha’ puasanya. Disunnahkan juga agar dilakukan secara berturut-turut     dalam melakukannya. Dan berkewajiban juga meng-qadha’ secara segera apabila     Ramadhan yang selanjutnya akan segera tiba. Barang siapa mengundur-undur qadha’             hingga bulan Ramadhan keduanya tiba maka ia berkewajiban membayar fidyah     sebagai tambahan atas kewajiban meng-qadha’. Yang dimaksud fidyah ialah memberi            makanan orang miskin untuk setiap hari dari hari-hari qadha’. Ukurannya ialah           sebagaimana yang diberikan kepada orang miskin dalam kifarat.

–         Cara mengeluarkan fidyah

Maksud Fidyah ialah satu cupak makanan asasi tempatan yang disedekahkan         kepada fakir miskin mewakilli satu hari yang tertinggal puasa Ramadhan padanya.          Makanan asasi masyarakat Malaysia adalah beras, maka wajib menyedekahkan     secupak beras kepada fakir miskin bagi mewakili sehari puasa. Ukuran secupak beras secara lebih kurang sebanyak 670gram. Contohnya sipulan telah meninggalkan       puasanya sebanyak 5 hari, maka dia wajib membayar Fidyahnya sebanyak 5 cupak        beras kepada fakir miskin. Firman Allah yang bermaksud :

                        “(Puasa Yang Diwajibkan itu ialah beberapa hari Yang tertentu; maka       sesiapa di antara kamu Yang sakit, atau Dalam musafir, (bolehlah ia berbuka),        kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari Yang dibuka) itu pada hari-hari Yang          lain; dan wajib atas orang-orang Yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan             sebagainya) membayar Fidyah Iaitu memberi makan orang miskin. maka sesiapa Yang Dengan sukarela memberikan (bayaran Fidyah) lebih dari Yang ditentukan itu,          maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (Walaupun demikian) berpuasa itu     lebih baik bagi kamu daripada memberi Fidyah), kalau kamu mengetahui.” (Al-      Baqarah : 184)

Fidyah dikenakan kepada orang yang tidak mampu berpuasa dan memang tidak boleh berpuasa lagi. Maka dengan itu Islam telah memberikan keringanan            (rukshoh) kepada mereka yang tidak boleh berpuasa dengan cara membayar Fidyah           yaitu memberikan secupak beras kepada orang fakir miskin. Begitu juga kepada orang   yang meninggalkan puasa dan tidak menggantikan puasanya sehingga menjelang               puasa Ramadhan kembali (setahun), maka dengan itu mereka dikehendaki berpuasa   dan juga wajib memberikan secupak beras kepada fakir miskin. Begitu juga pada           tahun seterusnya. Fidyah akan naik setiap tahun selagi mana orang tersebut tidak menggantikan puasanya.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari makalah yang sudah dijelaskan diatas, maka kesimpulan fiqih tentang bab Puasa adalah

1.   Puasa atau shiya, dalam istilah fikih, adalah menahan diri dari dari segala                                 perbuatan yang membatalkan, seperti makan, minum dan senggama sejak terbit                  fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan persyaratan tertentu.

  1. Macam-macam puasa adalah Puasa wajib, Puasa Sunah, Puasa Haram, Puasa Makruh.
  2. Syarat-syarat wajib puasa adalah islam, baligh dan berakal, sedang mukmin dan mampu melaksanakan puasa, tidak dalam keadaan haid atau nifas, niat.
  3. Hal-hal sunat dalam berpuasa yaitu berdo’a sebelum berbuka puasa, Menyegerakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam. Berbuka dengan kurma.
  4. Hal-hal Yang Makruh Ketika Puasa
  5. Meng-qodho’ Puasa Ramadhan, Barang siapa berkewajiban meng-qadha’ puasa Ramadhan karena membatalkannya secara sengaja, atau karena suatu sebab dari          beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban meng-qadha’ sebagai pengganti        hari-hari yang ia batalkan dan ia qadha’ pada masa yang diperbolehkan melakukan    puasa sunnah.

 

  1. KRITIK dan SARAN

Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan simpel. Serta dalam penyusunan makalah ini pun masih memerlukan kritikan dan saran bagi pembahasan tersebut. Setelah kami mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan Puasa, ternyata puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta      bisa menetlalisir racun dalam tubuh manusia. Demikian makalah sederhana ini kami susun. Terimakasih atas antusiasme dari  pembaca yang sudi menelaah dan mengimplementasikan isi makalah ini. saran kritik konstruktif tetap kami harapkan sebagai bahan perbaikan. Sekian.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

[1] Menurut sebagian ulama’, ucapan “Aku sedang berpuasa” seperti dianjurkan oleh Nabi Saw. Cukup dikatakan dalam hati saja; demi mengigatkan diri sendiri, bukan untuk didengar orang lain.

  1. puasa yang dilakukan karena ragu terhadap status hari tersebut, apakah hari tu sebagai akhir syakban (awal bulan ramadhan )atau belum masuk hari terakhir syakban.BAB IPENDAHULUAN
    1. Latar Belakang

    Puasa adalah rukun Islam yang ketiga. Karena itu setiap orang yang beriman, setiap orang islam yang mukallaf wajib melaksanakannya. Melaksanakan ibadah puasa ini selain untuk mematuhi perintah Allah adalah juga untuk menjadi tangga ke tingkat takwa, karena takwalah dasar keheningan jiwa dan keluruhan budi dan akhlak.

    Untuk ini semua, perlu diketahui segala sesuatu yang berkenaan dengan puasa, dari dasar hukum, syarat-syarat, rukun puasanya dan lain sebagainya.

    Makalah ini kami sajikan sebagai suatu sumbangan kecil kepada para pembaca untuk maksud tersebut di atas dengan harafan ada faedahnya.Tegur sapa, kritik dan saran dalam usaha menyempurnakan makalah ini kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah Swt. mengiringi kita semua dengan taufik dan hidayah-Nya. Aamiin.

    1. Rumusan Masalah
    • Apa pengertian Puasa?
    • Sebutkan macam-macam puasa?
    • Apa saja syarat-syarat wajib puasa?
    • Sebutkan hal-hal sunnat dalam berpuasa?
    • Sebutkan hal-hal makruh dalam berpuasa?
    • Bagaimana Meng- Qodho’ Puasa ramadahan?
    1. Tujuan
    • Untuk memperoleh pengetahuan berpuasa
    • Untuk mengetahui macam-macam puasa
    • Untuk memahami syarat-syarat berpuasa
    • Untuk mengetahui hal-hal sunnat dalam puasa
    • Untuk memahami hal-hal yang dimakruhkan ketika berpuasa
    • Untuk mengetahui cara Meng- Qodho’ Puasa Ramadhan

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

    1. Pengertian Puasa

    Puasa atau shiyam, dalam istilah fikih, adalah menahan diri dari dari segala perbuatan yang membatalkan, seperti makan, minum dan senggama sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan persyaratan tertentu.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

    Dalam hadis Qudsi disebutkan, “ semua amaln manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa; Akulah (Allah) yang menentukan balasanya (secara khusus ). Dan puasa merupakan penghalang  dari perbuatan pelangaran (terhadap larangan Alla);maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, jaganlah ia berkata keji atau bertindak bodoh(jahil). Kalaupun seseorang menunjukkan cercaan kepadanya atau mengajaknya bertengkar (atau berkelahi), hendaklah ia berkata; aku inisedang berpuasa. Aku ini sedang berpuasa! Sungguh,demi Allah yang  jiwa Muhammad berada di tanggan-Nya, bau mulut seorang yang sedang berpuasa, pada hari kiamat kelak, akan lebih harum dari pada harummnya misik. Dan seorang yang berpuasa akan merasakan dua kali kebahagiaan: sekali pada saat ia berkata, dan sekali lagi ketika berjumpa dengan Tuhannya.”(HR Ahmad, Muslim dan Nasa’iy).[1]

    1. Mengenal Macam-Macam Puasa
    2. Puasa Wajib

    Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan. Dan jika dilakukan sesuai dengan   cara yang diajarkan oleh Rasulullah Saw akan mendapatkan pahala. Jika ditinggalkan tanpa sebab yang dibenarkan, akan berdosa. Puasa wajib ada tiga macam yaitu:

    1. Puasa yang diwajibkan pada waktu yang telah ditentukan daam syariat. Seperti pusa dibulan Ramadhan.
    2. Puasa yang diwajibkan kepada seseorang karena ada sebab(illah) tertentu, sebagaimana yang telah ditentuksn dalam syariat. Salah satunya karena ia telah beruat maksiat. Seperti melakukan pembunuhan secara tidak disengaja, membatalkan atau melanggar sumpah, melkukan hubngan suamiistri disiang hari pada bulan ramadhan, atau dzihar-nya suami terhadap istri. Puasa ini disebut Puasa Kafarat.
    3. Puasa yang wajib dilaksanakan pleh seseorang, kerena ia sendiri yang mewajibka dengan sebab dan alasan tertentu yang tidak menyimapang dari syariat. Seperti seseorang yang berjanji untuk melaksanakan puasa jika diberi kesuksesan, diberi keturunn, mendapatka rezeki dan lain sebagainya. Puasa ini disebut puasa kafarat.
    4. Puasa Sunah

    Puasa sunah sering disebut dengan puasa tathawwu’ atau puasa mandub, yaitu puasa yang dilaksanakan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa yang termasuk dalam kateori sunah yangtelah disepakati oleh para ulama adalah sebagai berikut:

    1. Puasa Daud ( sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa)

    Puasa daud adalah puasa yang dilakukan Nabi daud. Sebagaimana disebut dalam hadits Shohih, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, ” Puasa yang paling utama adalah puasa Nabi Daud, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari.” Ada yang menambahakan, “dan tidak ada yang lebih utama dari itu. (HR. Muttafaq ‘alaih)

    1. Puasa tiga hari setiap bulan

    Puasa ini seing disebut Yaumul Bidh. Yaitu berpuasa pda tanggal 13,14, dan15 di setiap bulan hijriah. Dinamakan Puasa Bidh, sebab pada tanggal itu matahari maupun bulan bersinar dengan terang benderang. Pahala puasa ini disamakan dengan puasa Dahr atau puasa sepanjang tahun.

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Tawaf bin ‘Ash,ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Berpuasalah setiap bulannya tiga hari. Karena sesunggunya kebaikan pada hari itu dihitung sepulh kelipatannya, yang nilainya sama dengan ketika berpuasa sapanjang tahun” (HR. Muttaaqun alaih).

    1. Puasa dihari Senin dan kamis

    Sebagaiaman perkataan Usmah bin Zaid, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: “Berpuasalah pada hari senin dan kamis. kemudian ada yang bertanya tentang hal itu. Beliau berkata: ” sesungguhnya mal prbuata manusia itu disetorkan kepada Allah pada hari senin dan kamis. “Dan dalam riwayat ditambahkan dengan lafal: ” Dan aku menyukai amalku disetorkan kepada Allah, sedang aku dalam keadaan berpuasa” (HR. Abu Dawud).

    1. Puasa enam hari dibulan syawal

    Bagi seseorang yang berpuasa enam hari dibulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti puasa sepanjan tahun. Diriwayatkan oleh Abu ayyub, bahwa nabi bersabda, yang artinya:” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan pasa enam hari dibulan syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, abu dawud, dan at-tirmidzi)

    1. puasa pada hari arafah

    Puasa arafah yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 zulhijjah. Puasa ini dikerjakan oleh Muslim dan Muslimah yang tidak sedang melakukan ibadah haji

    1. Puasa tanggal 9-10 Muharrom

    Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas, yang marfu’: “jika akau masih diberi umur panjang, maka aku akan selalu puasa tanggal 9 dan 10 muharrom.”  Dan dalam lafal muslim:”Aku akan puasa tanggal 9 muharrom Rasulullah saw juga bersabda, yang artinya: “Aku memohon kepada Alah untuk menghapuskan dosa yang aku lakukan pada satu tahun sebelumnyaa.” (HR. Muslim)

    1. Puasa pada bulan haram (Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharrom)

    Demikian halnya bulan Rajab. Bulan-bulan ini adalah bulan mulia setelah bulan Ramadhan. Dari abu hurairah, ia berkata bahwa nabi bersabda, yang artinya: ” Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah shalat lail. dan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa pada bulan yang diharamkan Allah( al- Muharrom) (HR. Muslim dan yang lain)

    1. h) Puasa pada bulan syakban

    Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh ummu salamah. ia berkata bahwa nabi tidak pernah puasa selama satu bulan penuh dalam setahun, kecuali pada bulan syakban lalu dianjutkan puasa ramdhan. (HR.al-khamsah)

    Imam Syafi’i mengatakan bahwa makruh berpuasa pada pertengahan bulan syakban, sebagaimana dalam hadis, yang artinya : ” jika sudah mencapai pertengahan bulan syakban, maka janganlah kalian melaksanakan puasa.” (HR.Ahmad dan Imam Empat dari Abu Hurairah).

    1. Puasa Makruh

    Puasa makruh adalah puasa yang justru lebih baik tidak dilaksanakan. Namun jika dilaksanakan, tidak masuk pada puasa yang diharamkan. Diantara puasa yang dimakruhkan adalah sebagai berikut :

    1. a) Puasa pada akhir bulan syakban

    puasa pada bulan akhir syakban dimakruhkan, kecuali bagi mereka yang masih memiliki hutang atau tanggungan puasa, atau bagi yang terbiasa melaksanakannya. sebagaimana dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya : ” janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa melaksanakan puasa, maka boleh baginya untuk melaksanakannya.” (HR.Muttafaq’alaih)

    1. b) Puasa pada hari jum’at saja

    Berpuasa pada hari jum’at, hukumnya makruh. hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, yang artinya :”Sesungguhnya hari jumat adalah hari raya kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian berpuasa, kecuali kalian telah berpuasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya..” (HR.al-Bazzar)

    1. c) Puasa pada hari sabtu saja

    Puasa pada hari sabtu saja juga dimakruhkan. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Basar, yang berkata bahwa nabi bersabda, yang arinya: “janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali yang diwajibkan kepada kalian.” (HR.Tirmidzi)

    1. d) Puasa pada hari yang diragukan (yamus syak)[2]

    Puasa ini makruh, sebagaimana dalam hadis Rasulullah. Rasulullah bersabda, yang artinya, “Barangsipa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Abu Qasim (Nabi Muhammad).” (HR.Bukhari)

    1. e) Puasa pada hari raya umat islam

    Sebab, dikhawatirkan hal ini akan ikut mengagungkan hari besar orang lain. Padahal, bentuk mengagungkan sesuatu salah satu caranya adalah dengan berpuasa. Jika hal itu dilakukan, maka akan menyerupai umat lain.

    1. f) Puasa Wishal

    Puasa Wishal yaitu berpuasa terus menerus tanpa berbuka. Rasulullah bersabda, yang artinya: “janganlah kalian berpuasa wishal.” (HR. Bukhari)

    1. g) Puasa Dahr

    Puasa Dahr adalah puasa yang dilakukan selama satu tahun penuh, dan ini hukumnya makruh. Rasulullah bersabda, yang artinya: “tidak dianggap berpuasa, bagi orang yang berpuasa selamanya.” (HR.Muslim)

    1. h) Puasa sunahnya seorang istri tanpa izin suaminya

    Puasa ini juga makruh dilakukan, meskipun yang dikerjakan adalah puasa   sunah. Rasulullah bersabda, yang artinya,”janganlah seorang wanita berpuasa pada   suatu hari, ketika suami berada disisinya, melainkan dengan izinnya, kecuali pada        bulan Ramdhan.” (HR..Muttafaq’alaih)

    1. Puasa haram

    Ada puasa yang haram dilakukan. Jika dikerjakan, seorang muslimah akan  berdosa. Puasa-puasa yang diharamkan adalah sebagai berikut:

    1. a) Puasa pada hari raya

    Puasa pada hari raya, baik pada hari raya idul fitri maupun idul adha, serta tiga hari berikutnya atau yang sering disebut dengan hari tasyriq, haram hukumnya.

    Puasa pada hari-hari ini hukumnya haram. Jika ada yang berpuasa maka ia dianggap telah bermaksiat kepada Allah.

    Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “bahwa Rasulullah melarang berpuasa pada dua hari, yaitu: hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.” (HR.Muttafaqun’alaih)

    Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dalam kitab shahih       muslim-nya, dari Nabi yang artinya: “hari itu (hari raya) adalah hari untuk makan dan         minum serta mengingat Allah.

    Namun jumhur ulama mengecualikan puasa tasyriq bagi yang sedang          melaksanakan haji Tamattu’ dan haji Qiran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu      Umar dan Aisyah: “tidak ada rukhsah bagi kalian untuk berpuasa pada hari-hari             tasyriq, kecuali bagi yang tidak mendapatkan daging sembelihan (sedang haji).”             (HR.Bukhari).

     

    1. b) Puasanya wanita yang sedang haid maupun nifas

    Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadis. yaitu ketika Rasulullah ditanya tentang sebab yang menjadikan agama seorang wanita setengah dari laki-laki. Beliau menjawab, yang artinya: “bukankah ketika ia haid dan tidak berpuasa dan bukankah persaksian wanita itu setengah dari laki-laki ?” hadis ini menjelaskan bahwa wanita yang sedang haid tidak sah melaksanakan puasa., meski itu puasa wajib. ia wajib mengganti puasa wajib yang ia tinggalkan diwaktu haid atau nifas pada hari yang lainnya.

     

    1. c) Puasanya membahayakan jiwa dan raga

    misalnya, seseorang sedang sakit keras atau dalam kondisi yang sangat lemah. jika ia berpuasa, maka kesehatannya akan semakin lemh, bahkan bisa saja ia akan meninggal dunia.

    C.. Syarat Wajib Puasa

    1) islam

    Menurut Imam Hanafi, islam merupakan syarat wajib puasa, sedangkan menurut jumhur, beragama islam merupakan syarat sahnya puasa. Dengan demikian, seorang non-Muslim tidak mewajibkan melaksanakan puasa.

    2) Baligh dan berakal sehat

    Sebelum seorang anak mencapai usia baligh, ia belum diwajibkan untuk melaksanakan puasa. sehingga, saat balighnya tiba, ia tidak merasa berat untuk menunaikannya.

    3) Sedang mukmin dan mampu melaksanakan puasa

    Musafir dan orang yang sedang sakit, dapat menganti puasa wajib yang ia tinggalkan dihari yang lain. hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya: “(yaitu)          dalam beberapa hari yang tertentu. maka barang siapa diatara kamu ada yang sakit      atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak         hari yang itinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang            berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu)         memberi makan seorang miskin. barang siapa dengan kerelaan hati menggerjakan       kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu, jika            kamu mengetahui.”(Al-Baqarah:184)

    4) Tidak dalam keadaan haid atau nifas

    Wanita yang sedang haid atau nifas dilarang untuk melakukan puasa. ia wajib        mengganti puasa wajibnya dihari yang lain sebanyak puasa yang ditinggalkan.

    5) Niat

    Ada sebagaian ulama yang menambahkan niat sebagai syarat sah dan syarat           wajib   puasa. Orang yang tidak niat untuk berpuasa, maka puasanya tidak sah.

     

    1. Hal-hal Sunnat Dalam Berpuasa
    • Menyegerakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam.
    • Berbuka dengan kurma, sesuatu yang manis, atau dengan air
    • Berdoa sewaktu berbuka puasa.
    • Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika puasa.
    • Menta’khirkan makan sahur sampai kira-kira 15 menit sebelum fajar.
    • Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa.
    • Hendaklah memperbanyak sedekah selama dalam bulan puasa.
    • Memperbanyak membaca Alquran dan mempelajarinya (belajar atau mengajar) karena mengikuti perbuatan Rasulullah Saw
    1. Hal-hal Yang Makruh Ketika Puasa
    • Puasa wishal atau melaksanakan puasa terus menerus tanpa berbuka
    • Bercumbu dan berciuman atau melakukan hal-hal yang termasuk mukadimah  ataupendahuluan jimak
    • Mencium masakan bahkan mencicipinya.
    • Berkumur dan memasuakan air ke hidung secara berlebihan, terutama ketika tidak sedang berwudhu.
    • Memberi obat gigi pada siang hari pada saat darurat
    • Memperbayak tidur pada siang hari
    • Mengosok gigi setelah lewat pertengahan siang hari
    1. Meng-qadha’ Puasa Ramadhan

    Barang siapa berkewajiban meng-qadha’ puasa Ramadhan karena    membatalkannya secara sengaja, atau karena suatu sebab dari beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban meng-qadha’ sebagai pengganti hari-hari yang ia      batalkan dan ia qadha’ pada masa yang diperbolehkan melakukan puasa sunnah. Jadi         tidak dianggap mencukupi meng-qadha’ puasa Ramadhan pada hari-hari yang     dilarang berpuasa padanya. Seperti hari raya, baik idul fitri maupun idul adha’. Juga tidak dianggap mencukupi pada hari-hari yang memang ditentukan untuk berpuasa            fardhu, seperti bulan ramadhan yang sedang tiba waktunya, hari-hari nazar yang    ditentukan, misalnya ia bernazar akan berpuasa sepuluh hari diawal bulan bulan             Dzulqo’dah. Jadi meng-qadha’ puasa ramadhan pada hari-hari itu tidak bisa dinilai             mencukupi. Sebab telah ditentukan untuk nazar. Demikianlah menurut kalangan        ulama Malikiyah dan Syafi’iyyah.

    Begitu juga tidak bisa mencukupi melakukan qadha’ pada bulan Ramadhan            yang sedang tiba saatnya. Sebab bulan tersebut ditentukan untuk menunaikan            kewajiban puasa secara khusus. Jadi tidak bisa untuk dibuat melakukan puasa           selainnya. Melakukan puasa qadha’ dianggap sah pada hari syak, karena pada hari itu             melakukan puasa sunnah dianggap sah. Ketentuan meng-qadha’ ialah dengan cara             mengikuti jumlah puasa yang terluput(tertinggal), bukan mengikuti hilal atau tanggal bulan. Jadi kalau seseorang meninggalkan puasa selama 30 hari atau sebulan penuh,       maka ia harus meng-qadha(berpuasa) selama 30 hari juga. Jika dalam bulan yang ia   puasa tersebut ada 29 hari, maka ia harus menambah 1 hari lagi.

    Bagi yang mempunyai kewajiban meng-qadha’ puasa disunnahkan untuk    segera meng-qadha’ puasanya. Disunnahkan juga agar dilakukan secara berturut-turut     dalam melakukannya. Dan berkewajiban juga meng-qadha’ secara segera apabila     Ramadhan yang selanjutnya akan segera tiba. Barang siapa mengundur-undur qadha’             hingga bulan Ramadhan keduanya tiba maka ia berkewajiban membayar fidyah     sebagai tambahan atas kewajiban meng-qadha’. Yang dimaksud fidyah ialah memberi            makanan orang miskin untuk setiap hari dari hari-hari qadha’. Ukurannya ialah           sebagaimana yang diberikan kepada orang miskin dalam kifarat.

    –         Cara mengeluarkan fidyah

    Maksud Fidyah ialah satu cupak makanan asasi tempatan yang disedekahkan         kepada fakir miskin mewakilli satu hari yang tertinggal puasa Ramadhan padanya.          Makanan asasi masyarakat Malaysia adalah beras, maka wajib menyedekahkan     secupak beras kepada fakir miskin bagi mewakili sehari puasa. Ukuran secupak beras secara lebih kurang sebanyak 670gram. Contohnya sipulan telah meninggalkan       puasanya sebanyak 5 hari, maka dia wajib membayar Fidyahnya sebanyak 5 cupak        beras kepada fakir miskin. Firman Allah yang bermaksud :

                            “(Puasa Yang Diwajibkan itu ialah beberapa hari Yang tertentu; maka       sesiapa di antara kamu Yang sakit, atau Dalam musafir, (bolehlah ia berbuka),        kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari Yang dibuka) itu pada hari-hari Yang          lain; dan wajib atas orang-orang Yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan             sebagainya) membayar Fidyah Iaitu memberi makan orang miskin. maka sesiapa Yang Dengan sukarela memberikan (bayaran Fidyah) lebih dari Yang ditentukan itu,          maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (Walaupun demikian) berpuasa itu     lebih baik bagi kamu daripada memberi Fidyah), kalau kamu mengetahui.” (Al-      Baqarah : 184)

    Fidyah dikenakan kepada orang yang tidak mampu berpuasa dan memang tidak boleh berpuasa lagi. Maka dengan itu Islam telah memberikan keringanan            (rukshoh) kepada mereka yang tidak boleh berpuasa dengan cara membayar Fidyah           yaitu memberikan secupak beras kepada orang fakir miskin. Begitu juga kepada orang   yang meninggalkan puasa dan tidak menggantikan puasanya sehingga menjelang               puasa Ramadhan kembali (setahun), maka dengan itu mereka dikehendaki berpuasa   dan juga wajib memberikan secupak beras kepada fakir miskin. Begitu juga pada           tahun seterusnya. Fidyah akan naik setiap tahun selagi mana orang tersebut tidak menggantikan puasanya.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

    1. KESIMPULAN

    Dari makalah yang sudah dijelaskan diatas, maka kesimpulan fiqih tentang bab Puasa adalah         1.   Puasa atau shiya, dalam istilah fikih, adalah menahan diri dari dari segala          perbuatan yang membatalkan, seperti makan, minum dan senggama sejak terbit       fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan persyaratan tertentu.

    1. Macam-macam puasa adalah Puasa wajib, Puasa Sunah, Puasa Haram, Puasa Makruh.
    2. Syarat-syarat wajib puasa adalah islam, baligh dan berakal, sedang mukmin dan mampu melaksanakan puasa, tidak dalam keadaan haid atau nifas, niat.
    3. Hal-hal sunat dalam berpuasa yaitu berdo’a sebelum berbuka puasa, Menyegerakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam. Berbuka dengan kurma.
    4. Hal-hal Yang Makruh Ketika Puasa
    5. Meng-qodho’ Puasa Ramadhan, Barang siapa berkewajiban meng-qadha’ puasa Ramadhan karena membatalkannya secara sengaja, atau karena suatu sebab dari           beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban meng-qadha’ sebagai pengganti          hari-hari yang ia batalkan dan ia qadha’ pada masa yang diperbolehkan melakukan       puasa sunnah.

     

    1. KRITIK dan SARAN

    Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan simpel. Serta dalam penyusunan makalah ini pun masih memerlukan kritikan dan saran bagi pembahasan tersebut. Setelah kami mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan Puasa, ternyata puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta      bisa menetlalisir racun dalam tubuh manusia. Demikian makalah sederhana ini kami susun. Terimakasih atas antusiasme dari  pembaca yang sudi menelaah dan mengimplementasikan isi makalah ini. saran kritik konstruktif tetap kami harapkan sebagai bahan perbaikan. Sekian.

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    [1] Menurut sebagian ulama’, ucapan “Aku sedang berpuasa” seperti dianjurkan oleh Nabi Saw. Cukup dikatakan dalam hati saja; demi mengigatkan diri sendiri, bukan untuk didengar orang lain.

    1. puasa yang dilakukan karena ragu terhadap status hari tersebut, apakah hari tu sebagai akhir syakban (awal bulan ramadhan )atau belum masuk hari terakhir syakban.BAB IPENDAHULUAN
      1. Latar Belakang

      Puasa adalah rukun Islam yang ketiga. Karena itu setiap orang yang beriman, setiap orang islam yang mukallaf wajib melaksanakannya. Melaksanakan ibadah puasa ini selain untuk mematuhi perintah Allah adalah juga untuk menjadi tangga ke tingkat takwa, karena takwalah dasar keheningan jiwa dan keluruhan budi dan akhlak.

      Untuk ini semua, perlu diketahui segala sesuatu yang berkenaan dengan puasa, dari dasar hukum, syarat-syarat, rukun puasanya dan lain sebagainya.

      Makalah ini kami sajikan sebagai suatu sumbangan kecil kepada para pembaca untuk maksud tersebut di atas dengan harafan ada faedahnya.Tegur sapa, kritik dan saran dalam usaha menyempurnakan makalah ini kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah Swt. mengiringi kita semua dengan taufik dan hidayah-Nya. Aamiin.

      1. Rumusan Masalah
      • Apa pengertian Puasa?
      • Sebutkan macam-macam puasa?
      • Apa saja syarat-syarat wajib puasa?
      • Sebutkan hal-hal sunnat dalam berpuasa?
      • Sebutkan hal-hal makruh dalam berpuasa?
      • Bagaimana Meng- Qodho’ Puasa ramadahan?
      1. Tujuan
      • Untuk memperoleh pengetahuan berpuasa
      • Untuk mengetahui macam-macam puasa
      • Untuk memahami syarat-syarat berpuasa
      • Untuk mengetahui hal-hal sunnat dalam puasa
      • Untuk memahami hal-hal yang dimakruhkan ketika berpuasa
      • Untuk mengetahui cara Meng- Qodho’ Puasa Ramadhan

       

      BAB II

      PEMBAHASAN

      1. Pengertian Puasa

      Puasa atau shiyam, dalam istilah fikih, adalah menahan diri dari dari segala perbuatan yang membatalkan, seperti makan, minum dan senggama sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan persyaratan tertentu.

      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

      Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

      Dalam hadis Qudsi disebutkan, “ semua amaln manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa; Akulah (Allah) yang menentukan balasanya (secara khusus ). Dan puasa merupakan penghalang  dari perbuatan pelangaran (terhadap larangan Alla);maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, jaganlah ia berkata keji atau bertindak bodoh(jahil). Kalaupun seseorang menunjukkan cercaan kepadanya atau mengajaknya bertengkar (atau berkelahi), hendaklah ia berkata; aku inisedang berpuasa. Aku ini sedang berpuasa! Sungguh,demi Allah yang  jiwa Muhammad berada di tanggan-Nya, bau mulut seorang yang sedang berpuasa, pada hari kiamat kelak, akan lebih harum dari pada harummnya misik. Dan seorang yang berpuasa akan merasakan dua kali kebahagiaan: sekali pada saat ia berkata, dan sekali lagi ketika berjumpa dengan Tuhannya.”(HR Ahmad, Muslim dan Nasa’iy).[1]

      1. Mengenal Macam-Macam Puasa
      2. Puasa Wajib

      Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan. Dan jika dilakukan sesuai dengan   cara yang diajarkan oleh Rasulullah Saw akan mendapatkan pahala. Jika ditinggalkan tanpa sebab yang dibenarkan, akan berdosa. Puasa wajib ada tiga macam yaitu:

      1. Puasa yang diwajibkan pada waktu yang telah ditentukan daam syariat. Seperti pusa dibulan Ramadhan.
      2. Puasa yang diwajibkan kepada seseorang karena ada sebab(illah) tertentu, sebagaimana yang telah ditentuksn dalam syariat. Salah satunya karena ia telah beruat maksiat. Seperti melakukan pembunuhan secara tidak disengaja, membatalkan atau melanggar sumpah, melkukan hubngan suamiistri disiang hari pada bulan ramadhan, atau dzihar-nya suami terhadap istri. Puasa ini disebut Puasa Kafarat.
      3. Puasa yang wajib dilaksanakan pleh seseorang, kerena ia sendiri yang mewajibka dengan sebab dan alasan tertentu yang tidak menyimapang dari syariat. Seperti seseorang yang berjanji untuk melaksanakan puasa jika diberi kesuksesan, diberi keturunn, mendapatka rezeki dan lain sebagainya. Puasa ini disebut puasa kafarat.
      4. Puasa Sunah

      Puasa sunah sering disebut dengan puasa tathawwu’ atau puasa mandub, yaitu puasa yang dilaksanakan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa yang termasuk dalam kateori sunah yangtelah disepakati oleh para ulama adalah sebagai berikut:

      1. Puasa Daud ( sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa)

      Puasa daud adalah puasa yang dilakukan Nabi daud. Sebagaimana disebut dalam hadits Shohih, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, ” Puasa yang paling utama adalah puasa Nabi Daud, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari.” Ada yang menambahakan, “dan tidak ada yang lebih utama dari itu. (HR. Muttafaq ‘alaih)

      1. Puasa tiga hari setiap bulan

      Puasa ini seing disebut Yaumul Bidh. Yaitu berpuasa pda tanggal 13,14, dan15 di setiap bulan hijriah. Dinamakan Puasa Bidh, sebab pada tanggal itu matahari maupun bulan bersinar dengan terang benderang. Pahala puasa ini disamakan dengan puasa Dahr atau puasa sepanjang tahun.

      Diriwayatkan dari Abdullah bin Tawaf bin ‘Ash,ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Berpuasalah setiap bulannya tiga hari. Karena sesunggunya kebaikan pada hari itu dihitung sepulh kelipatannya, yang nilainya sama dengan ketika berpuasa sapanjang tahun” (HR. Muttaaqun alaih).

      1. Puasa dihari Senin dan kamis

      Sebagaiaman perkataan Usmah bin Zaid, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: “Berpuasalah pada hari senin dan kamis. kemudian ada yang bertanya tentang hal itu. Beliau berkata: ” sesungguhnya mal prbuata manusia itu disetorkan kepada Allah pada hari senin dan kamis. “Dan dalam riwayat ditambahkan dengan lafal: ” Dan aku menyukai amalku disetorkan kepada Allah, sedang aku dalam keadaan berpuasa” (HR. Abu Dawud).

      1. Puasa enam hari dibulan syawal

      Bagi seseorang yang berpuasa enam hari dibulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti puasa sepanjan tahun. Diriwayatkan oleh Abu ayyub, bahwa nabi bersabda, yang artinya:” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan pasa enam hari dibulan syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, abu dawud, dan at-tirmidzi)

      1. puasa pada hari arafah

      Puasa arafah yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 zulhijjah. Puasa ini dikerjakan oleh Muslim dan Muslimah yang tidak sedang melakukan ibadah haji

      1. Puasa tanggal 9-10 Muharrom

      Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas, yang marfu’: “jika akau masih diberi umur panjang, maka aku akan selalu puasa tanggal 9 dan 10 muharrom.”  Dan dalam lafal muslim:”Aku akan puasa tanggal 9 muharrom Rasulullah saw juga bersabda, yang artinya: “Aku memohon kepada Alah untuk menghapuskan dosa yang aku lakukan pada satu tahun sebelumnyaa.” (HR. Muslim)

      1. Puasa pada bulan haram (Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharrom)

      Demikian halnya bulan Rajab. Bulan-bulan ini adalah bulan mulia setelah bulan Ramadhan. Dari abu hurairah, ia berkata bahwa nabi bersabda, yang artinya: ” Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah shalat lail. dan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa pada bulan yang diharamkan Allah( al- Muharrom) (HR. Muslim dan yang lain)

      1. h) Puasa pada bulan syakban

      Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh ummu salamah. ia berkata bahwa nabi tidak pernah puasa selama satu bulan penuh dalam setahun, kecuali pada bulan syakban lalu dianjutkan puasa ramdhan. (HR.al-khamsah)

      Imam Syafi’i mengatakan bahwa makruh berpuasa pada pertengahan bulan syakban, sebagaimana dalam hadis, yang artinya : ” jika sudah mencapai pertengahan bulan syakban, maka janganlah kalian melaksanakan puasa.” (HR.Ahmad dan Imam Empat dari Abu Hurairah).

      1. Puasa Makruh

      Puasa makruh adalah puasa yang justru lebih baik tidak dilaksanakan. Namun jika dilaksanakan, tidak masuk pada puasa yang diharamkan. Diantara puasa yang dimakruhkan adalah sebagai berikut :

      1. a) Puasa pada akhir bulan syakban

      puasa pada bulan akhir syakban dimakruhkan, kecuali bagi mereka yang masih memiliki hutang atau tanggungan puasa, atau bagi yang terbiasa melaksanakannya. sebagaimana dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya : ” janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa melaksanakan puasa, maka boleh baginya untuk melaksanakannya.” (HR.Muttafaq’alaih)

      1. b) Puasa pada hari jum’at saja

      Berpuasa pada hari jum’at, hukumnya makruh. hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, yang artinya :”Sesungguhnya hari jumat adalah hari raya kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian berpuasa, kecuali kalian telah berpuasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya..” (HR.al-Bazzar)

      1. c) Puasa pada hari sabtu saja

      Puasa pada hari sabtu saja juga dimakruhkan. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Basar, yang berkata bahwa nabi bersabda, yang arinya: “janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali yang diwajibkan kepada kalian.” (HR.Tirmidzi)

      1. d) Puasa pada hari yang diragukan (yamus syak)[2]

      Puasa ini makruh, sebagaimana dalam hadis Rasulullah. Rasulullah bersabda, yang artinya, “Barangsipa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Abu Qasim (Nabi Muhammad).” (HR.Bukhari)

      1. e) Puasa pada hari raya umat islam

      Sebab, dikhawatirkan hal ini akan ikut mengagungkan hari besar orang lain. Padahal, bentuk mengagungkan sesuatu salah satu caranya adalah dengan berpuasa. Jika hal itu dilakukan, maka akan menyerupai umat lain.

      1. f) Puasa Wishal

      Puasa Wishal yaitu berpuasa terus menerus tanpa berbuka. Rasulullah bersabda, yang artinya: “janganlah kalian berpuasa wishal.” (HR. Bukhari)

      1. g) Puasa Dahr

      Puasa Dahr adalah puasa yang dilakukan selama satu tahun penuh, dan ini hukumnya makruh. Rasulullah bersabda, yang artinya: “tidak dianggap berpuasa, bagi orang yang berpuasa selamanya.” (HR.Muslim)

      1. h) Puasa sunahnya seorang istri tanpa izin suaminya

      Puasa ini juga makruh dilakukan, meskipun yang dikerjakan adalah puasa   sunah. Rasulullah bersabda, yang artinya,”janganlah seorang wanita berpuasa pada   suatu hari, ketika suami berada disisinya, melainkan dengan izinnya, kecuali pada        bulan Ramdhan.” (HR..Muttafaq’alaih)

      1. Puasa haram

      Ada puasa yang haram dilakukan. Jika dikerjakan, seorang muslimah akan  berdosa. Puasa-puasa yang diharamkan adalah sebagai berikut:

      1. a) Puasa pada hari raya

      Puasa pada hari raya, baik pada hari raya idul fitri maupun idul adha, serta tiga hari berikutnya atau yang sering disebut dengan hari tasyriq, haram hukumnya.

      Puasa pada hari-hari ini hukumnya haram. Jika ada yang berpuasa maka ia dianggap telah bermaksiat kepada Allah.

      Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “bahwa Rasulullah melarang berpuasa pada dua hari, yaitu: hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.” (HR.Muttafaqun’alaih)

      Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dalam kitab shahih       muslim-nya, dari Nabi yang artinya: “hari itu (hari raya) adalah hari untuk makan dan         minum serta mengingat Allah.

      Namun jumhur ulama mengecualikan puasa tasyriq bagi yang sedang          melaksanakan haji Tamattu’ dan haji Qiran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu      Umar dan Aisyah: “tidak ada rukhsah bagi kalian untuk berpuasa pada hari-hari             tasyriq, kecuali bagi yang tidak mendapatkan daging sembelihan (sedang haji).”             (HR.Bukhari).

       

      1. b) Puasanya wanita yang sedang haid maupun nifas

      Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadis. yaitu ketika Rasulullah ditanya tentang sebab yang menjadikan agama seorang wanita setengah dari laki-laki. Beliau menjawab, yang artinya: “bukankah ketika ia haid dan tidak berpuasa dan bukankah persaksian wanita itu setengah dari laki-laki ?” hadis ini menjelaskan bahwa wanita yang sedang haid tidak sah melaksanakan puasa., meski itu puasa wajib. ia wajib mengganti puasa wajib yang ia tinggalkan diwaktu haid atau nifas pada hari yang lainnya.

       

      1. c) Puasanya membahayakan jiwa dan raga

      misalnya, seseorang sedang sakit keras atau dalam kondisi yang sangat lemah. jika ia berpuasa, maka kesehatannya akan semakin lemh, bahkan bisa saja ia akan meninggal dunia.

      C.. Syarat Wajib Puasa

      1) islam

      Menurut Imam Hanafi, islam merupakan syarat wajib puasa, sedangkan menurut jumhur, beragama islam merupakan syarat sahnya puasa. Dengan demikian, seorang non-Muslim tidak mewajibkan melaksanakan puasa.

      2) Baligh dan berakal sehat

      Sebelum seorang anak mencapai usia baligh, ia belum diwajibkan untuk melaksanakan puasa. sehingga, saat balighnya tiba, ia tidak merasa berat untuk menunaikannya.

      3) Sedang mukmin dan mampu melaksanakan puasa

      Musafir dan orang yang sedang sakit, dapat menganti puasa wajib yang ia tinggalkan dihari yang lain. hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya: “(yaitu)          dalam beberapa hari yang tertentu. maka barang siapa diatara kamu ada yang sakit      atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak         hari yang itinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang            berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu)         memberi makan seorang miskin. barang siapa dengan kerelaan hati menggerjakan       kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu, jika            kamu mengetahui.”(Al-Baqarah:184)

      4) Tidak dalam keadaan haid atau nifas

      Wanita yang sedang haid atau nifas dilarang untuk melakukan puasa. ia wajib        mengganti puasa wajibnya dihari yang lain sebanyak puasa yang ditinggalkan.

      5) Niat

      Ada sebagaian ulama yang menambahkan niat sebagai syarat sah dan syarat           wajib   puasa. Orang yang tidak niat untuk berpuasa, maka puasanya tidak sah.

       

      1. Hal-hal Sunnat Dalam Berpuasa
      • Menyegerakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam.
      • Berbuka dengan kurma, sesuatu yang manis, atau dengan air
      • Berdoa sewaktu berbuka puasa.
      • Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika puasa.
      • Menta’khirkan makan sahur sampai kira-kira 15 menit sebelum fajar.
      • Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa.
      • Hendaklah memperbanyak sedekah selama dalam bulan puasa.
      • Memperbanyak membaca Alquran dan mempelajarinya (belajar atau mengajar) karena mengikuti perbuatan Rasulullah Saw
      1. Hal-hal Yang Makruh Ketika Puasa
      • Puasa wishal atau melaksanakan puasa terus menerus tanpa berbuka
      • Bercumbu dan berciuman atau melakukan hal-hal yang termasuk mukadimah  ataupendahuluan jimak
      • Mencium masakan bahkan mencicipinya.
      • Berkumur dan memasuakan air ke hidung secara berlebihan, terutama ketika tidak sedang berwudhu.
      • Memberi obat gigi pada siang hari pada saat darurat
      • Memperbayak tidur pada siang hari
      • Mengosok gigi setelah lewat pertengahan siang hari
      1. Meng-qadha’ Puasa Ramadhan

      Barang siapa berkewajiban meng-qadha’ puasa Ramadhan karena    membatalkannya secara sengaja, atau karena suatu sebab dari beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban meng-qadha’ sebagai pengganti hari-hari yang ia      batalkan dan ia qadha’ pada masa yang diperbolehkan melakukan puasa sunnah. Jadi         tidak dianggap mencukupi meng-qadha’ puasa Ramadhan pada hari-hari yang     dilarang berpuasa padanya. Seperti hari raya, baik idul fitri maupun idul adha’. Juga tidak dianggap mencukupi pada hari-hari yang memang ditentukan untuk berpuasa            fardhu, seperti bulan ramadhan yang sedang tiba waktunya, hari-hari nazar yang    ditentukan, misalnya ia bernazar akan berpuasa sepuluh hari diawal bulan bulan             Dzulqo’dah. Jadi meng-qadha’ puasa ramadhan pada hari-hari itu tidak bisa dinilai             mencukupi. Sebab telah ditentukan untuk nazar. Demikianlah menurut kalangan        ulama Malikiyah dan Syafi’iyyah.

      Begitu juga tidak bisa mencukupi melakukan qadha’ pada bulan Ramadhan            yang sedang tiba saatnya. Sebab bulan tersebut ditentukan untuk menunaikan            kewajiban puasa secara khusus. Jadi tidak bisa untuk dibuat melakukan puasa           selainnya. Melakukan puasa qadha’ dianggap sah pada hari syak, karena pada hari itu             melakukan puasa sunnah dianggap sah. Ketentuan meng-qadha’ ialah dengan cara             mengikuti jumlah puasa yang terluput(tertinggal), bukan mengikuti hilal atau tanggal bulan. Jadi kalau seseorang meninggalkan puasa selama 30 hari atau sebulan penuh,       maka ia harus meng-qadha(berpuasa) selama 30 hari juga. Jika dalam bulan yang ia   puasa tersebut ada 29 hari, maka ia harus menambah 1 hari lagi.

      Bagi yang mempunyai kewajiban meng-qadha’ puasa disunnahkan untuk    segera meng-qadha’ puasanya. Disunnahkan juga agar dilakukan secara berturut-turut     dalam melakukannya. Dan berkewajiban juga meng-qadha’ secara segera apabila     Ramadhan yang selanjutnya akan segera tiba. Barang siapa mengundur-undur qadha’             hingga bulan Ramadhan keduanya tiba maka ia berkewajiban membayar fidyah     sebagai tambahan atas kewajiban meng-qadha’. Yang dimaksud fidyah ialah memberi            makanan orang miskin untuk setiap hari dari hari-hari qadha’. Ukurannya ialah           sebagaimana yang diberikan kepada orang miskin dalam kifarat.

      –         Cara mengeluarkan fidyah

      Maksud Fidyah ialah satu cupak makanan asasi tempatan yang disedekahkan         kepada fakir miskin mewakilli satu hari yang tertinggal puasa Ramadhan padanya.          Makanan asasi masyarakat Malaysia adalah beras, maka wajib menyedekahkan     secupak beras kepada fakir miskin bagi mewakili sehari puasa. Ukuran secupak beras secara lebih kurang sebanyak 670gram. Contohnya sipulan telah meninggalkan       puasanya sebanyak 5 hari, maka dia wajib membayar Fidyahnya sebanyak 5 cupak        beras kepada fakir miskin. Firman Allah yang bermaksud :

                              “(Puasa Yang Diwajibkan itu ialah beberapa hari Yang tertentu; maka       sesiapa di antara kamu Yang sakit, atau Dalam musafir, (bolehlah ia berbuka),        kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari Yang dibuka) itu pada hari-hari Yang          lain; dan wajib atas orang-orang Yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan             sebagainya) membayar Fidyah Iaitu memberi makan orang miskin. maka sesiapa Yang Dengan sukarela memberikan (bayaran Fidyah) lebih dari Yang ditentukan itu,          maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (Walaupun demikian) berpuasa itu     lebih baik bagi kamu daripada memberi Fidyah), kalau kamu mengetahui.” (Al-      Baqarah : 184)

      Fidyah dikenakan kepada orang yang tidak mampu berpuasa dan memang tidak boleh berpuasa lagi. Maka dengan itu Islam telah memberikan keringanan            (rukshoh) kepada mereka yang tidak boleh berpuasa dengan cara membayar Fidyah           yaitu memberikan secupak beras kepada orang fakir miskin. Begitu juga kepada orang   yang meninggalkan puasa dan tidak menggantikan puasanya sehingga menjelang               puasa Ramadhan kembali (setahun), maka dengan itu mereka dikehendaki berpuasa   dan juga wajib memberikan secupak beras kepada fakir miskin. Begitu juga pada           tahun seterusnya. Fidyah akan naik setiap tahun selagi mana orang tersebut tidak menggantikan puasanya.

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      BAB III

      PENUTUP

      1. KESIMPULAN

      Dari makalah yang sudah dijelaskan diatas, maka kesimpulan fiqih tentang bab Puasa adalah         1.   Puasa atau shiya, dalam istilah fikih, adalah menahan diri dari dari segala          perbuatan yang membatalkan, seperti makan, minum dan senggama sejak terbit       fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan persyaratan tertentu.

      1. Macam-macam puasa adalah Puasa wajib, Puasa Sunah, Puasa Haram, Puasa Makruh.
      2. Syarat-syarat wajib puasa adalah islam, baligh dan berakal, sedang mukmin dan mampu melaksanakan puasa, tidak dalam keadaan haid atau nifas, niat.
      3. Hal-hal sunat dalam berpuasa yaitu berdo’a sebelum berbuka puasa, Menyegerakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam. Berbuka dengan kurma.
      4. Hal-hal Yang Makruh Ketika Puasa
      5. Meng-qodho’ Puasa Ramadhan, Barang siapa berkewajiban meng-qadha’ puasa Ramadhan karena membatalkannya secara sengaja, atau karena suatu sebab dari           beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban meng-qadha’ sebagai pengganti          hari-hari yang ia batalkan dan ia qadha’ pada masa yang diperbolehkan melakukan       puasa sunnah.

       

      1. KRITIK dan SARAN

      Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan simpel. Serta dalam penyusunan makalah ini pun masih memerlukan kritikan dan saran bagi pembahasan tersebut. Setelah kami mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan Puasa, ternyata puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta      bisa menetlalisir racun dalam tubuh manusia. Demikian makalah sederhana ini kami susun. Terimakasih atas antusiasme dari  pembaca yang sudi menelaah dan mengimplementasikan isi makalah ini. saran kritik konstruktif tetap kami harapkan sebagai bahan perbaikan. Sekian.

       

      DAFTAR PUSTAKA

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      [1] Menurut sebagian ulama’, ucapan “Aku sedang berpuasa” seperti dianjurkan oleh Nabi Saw. Cukup dikatakan dalam hati saja; demi mengigatkan diri sendiri, bukan untuk didengar orang lain.

      1. puasa yang dilakukan karena ragu terhadap status hari tersebut, apakah hari tu sebagai akhir syakban (awal bulan ramadhan )atau belum masuk hari terakhir syakban.
Iklan

Tentang mulyana2123

Fakultas Dakwah dan Komunikasi Uin walisongo Semarang
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Fiqih. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s